Are you a member? sign in or take a minute to sign up

Cancel
logo

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pengadilan Negeri Mandailing Natal

Alamat: Jalan Lintas Sumatera KM. 7, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Email: pnmandailingnatal@gmail.com

Berita

01Okt

PN Mandailing Natal Laksanakan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026

Panyabungan (01/10/2026). Pengadilan Negeri Mandailing Natal melaksanakan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026. Upacara berlangsung di halaman depan Kantor Pengadilan Negeri Mandailing Natal. Upacara diikuti oleh para Hakim, Panitera, Sekretaris, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh ASN Pengadilan Negeri Mandailing Natal. Pelaksanaan upacara berlangsung dengan tertib dan khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan […]Lebih Lanjut

30Sep

Rapat Bulanan Periode September 2026 Pengadilan Negeri Mandailing Natal

MANDAILING NATAL– Pengadilan Negeri (PN) Mandailing Natal menyelenggarakan kegiatan Rapat Bulanan Periode September 2026 bertempat di Ruang Sidang Utama PN Mandailing Natal, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua PN Mandailing Natal, Bapak Hasnul Tambunan, S.H., M.H. Rapat bulanan ini diikuti oleh para Hakim, Panitera, Sekretaris, Pejabat Struktural, Panitera Pengganti, Jurusita/Jurusita Pengganti, Pelaksana, serta PPPK di lingkungan PN Mandailing […]Lebih Lanjut

31Agu

Kegiatan Rapat Bulanan PN Mandailing Natal

Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan Rapat Bulanan Pengadilan Negeri Mandailing Natal telah dilaksanakan di Ruang Sidang Garuda dengan Agenda Monitoring dan Evaluasi Kinerja bulan Agustus 2026.` Acara Rapat Bulanan ini dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri Mandailing Natal Bapak Hasnul Tambunan, S.H., M.H dan di hadiri oleh Hakim, Panitera, Sekretaris, para Panmud, para Kasubbag, dan seluruh pegawai Pengadilan Negeri Mandailing Natal.Lebih Lanjut

31Agu

Mengikuti PERISAI BADILUM Episode ke -17 secara daring

Ketua Pengadilan Negeri Mandailing Natal, Hakim, Panitera, Panitera Pengganti mengikuti secara daring PERISAI BADILUM Episode ke-17 dengan Topik “Kebebasan, Kebencian dan Penegakan Hukum : menemukan keseimbangan dalam Perspektif HAM.”Senin (31/08/2026)Lebih Lanjut

19Agu

UPACARA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN MAHKAMAH AGUNG RI KE-81 TAHUN 2026

Dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan, Pengadilan Negeri Mandailing Natal turut serta dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Mahkamah Agung Republik Indonesia Ke-81 Tahun 2026 yang diselenggarakan di Lapangan Upacara Pengadilan Negeri Mandailing Natal bersama Pengadilan Agama Panyabungan. 81 Tahun Mahkamah Agung RI — sebuah perjalanan panjang yang penuh dedikasi dan komitmen dalam memimpin dan mengawal sistem peradilan Indonesia menuju […]Lebih Lanjut

17Agu

PN Mandailing Natal Peringati HUT ke-81 RI dengan Semangat Kebangsaan dan Pengabdian

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pengadilan Negeri Mandailing Natal melaksanakan Upacara Bendera pada Senin, 17 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan khidmat serta diikuti oleh keluarga besar Pengadilan Negeri Mandailing Natal. Dalam upacara tersebut, yang menjadi Pembina Upacara adalah Iwan Lamganda, S.H., (Hakim Pengadilan Negeri Mandailing Natal) dan sedangkan Abu Sofyan bertugas sebagai Pemimpin Upacara. Upacara […]Lebih Lanjut

Alam Pikiran Yunani: Sebuah Review Karya Mohammad Hatta

Alam Pikiran Yunani: Sebuah Review Karya Mohammad Hatta

Oleh: Catur Alfath Satriya

Hakim Pengadilan Negeri Mandailing Natal

Pemikiran filsafat yunani merupakan salah satu pemikiran yang menjadi milestone berkembangnya pemikiran-pemikiran yang lain. Peradaban yunani menjadi yang terdepan dikarenakan banyak filsuf-filsuf yunani yang pandangan-pandangannya dijadikan benchmark oleh pemikiran-pemikiran berikutnya. Sebut saja Plato, pemikiran Plato tentang negara masih dijadikan referensi dalam pemikiran politik barat yang masih sangat relevan untuk didiskusikan. Mohammad Hatta melihat bahwa membahas pemikiran filsafat yunani sangatlah penting. Setidaknya ada 2 alasan mengapa penting mempelajari pemikiran filsafat yunani. Pertama, filsafat perlu dipelajari untuk menajamkan pikiran dan memperluas wawasan. Filsafat merupakan Mother of Knowledge yang menjadi “Pintu Gerbang” untuk mempelajari  dan mengerti ilmu-ilmu lain dengan lebih mudah. Kedua, filsafat yunani merupakan awal mula dari peradaban barat. Pemikiran filsafat yunani memberikan sendi-sendi bagaimana akhirnya “wajah” peradaban barat terutama dalam hal pemikiran politik dan pemerintahan. Rasionalisme dan intelektualisme yang mewarnai kehidupan peradaban barat juga diawali dari tradisi pemikiran filsafat yunani.

Pembagian pemikiran filsafat yunani

Mohammad Hatta di dalam bukunya membagi pemikiran filsafat yunani menjadi 8 bagian.

  1. Filsafat Alam

Filsafat Alam ini merupakan pemikiran awal filsafat yunani. Inti dari filsafat ini adalah pemikiran tentang alam. Bagaimana alam ini bermula, apa yang mendasari alam merupakan pertanyaan-pertanyaan di dalam pemikiran filsafat alam. Pemahaman mengenai alam diproblematisasi dan digali terus menerus. Filsuf dari pemikiran ini adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes.

  • Filsafat Herakleitos

Herakleitos adalah seorang filsuf yang lahir di kota Ephesos di Asia Minor. Dia mempunyai pandangan tersendiri mengenai alam yang berbeda dari filsuf-filsuf sebelumnya. Dia mempunyai pandangan bahwa alam itu terus bergerak. Tidak ada yang boleh disebut dengan ada, melainkan menjadi . Semua yang ada di dunia ini terus melakukan proses pergerakan. Pergerakan yang terjadi di dunia/alam ini bukan pergerakan yang asal namun pergerakan yang dikendalikan oleh Logos yang berarti pikiran yang benar. Logos menjadi dasar perbuatan manusia. Oleh karena itu, memahami logos adalah kewajiban manusia.

  • Filsafat Elea

Inti dari pemikiran Filsafat Elea adalah bahwa sesuatu “Yang Ada” itu satu, tidak berubah-ubah. Menurut pemikiran filsafat ini, kebenaran tidak hanya didapatkan dengan panca indera namun dengan pikiran yang memperhatikan. Pemikiran ini bertentangan dengan pemikiran filsafat Herakleitos, pemikiran filsafat Elea berpandangan bahwa sesuatu itu tetap sedangkan filsafat Herakleitos berpandangan bahwa sesuatu itu berubah-ubah (selalu mengalami pergerakan). Filsuf dalam pemikiran ini adalah Xenophanes, Parmenides, Zeno, dan Melissos.

  • Filsafat Pythagoras

Dalam khazanah pemikiran filsafat yunani, Pythagoras mempunyai corak pemikiran tersendiri. Pythagoras mendasarkan pemikiran filsafatnya pada pandangan agama sehingga warna pemikiran filsafatnya bisa dikatakan cenderung mistik. Inti dari pemikiran filsafat Pythagoras adalah mendidik kebatinan dengan menyucikan ruh. Pythagoras percaya dengan konsep akhirat sehingga apa yang diusahakan manusia di dunia haruslah berkorelasi dengan tujuan hidup di akhirat. Selain itu, Pythagoras merupakan ahli matematika dia berpandangan bahwa Alam ini tersusun dalam angka-angka.

  • Neo Filsafat Alam

Pemikiran mengenai filsafat alam muncul lagi dalam khazanah pemikiran filsafat yunani. Pemikiran neo filsafat alam ini sama seperti pemikiran filsafat Elea bahwa substansi tidak berubah-ubah. Pemikiran filsafat ini menjadi tonggak awal lahirnya filsafat materialisme yang berintikan bahwa semuanya terjadi dari benda atau materi. Filsuf dalam pemikiran ini adalah Empedokles, Anaxagoras, Leukippos, dan Demokritos.

  • Filsafat Sofisme

Pemikiran filsafat sofisme lahir diantara pemikiran filsafat alam dengan filsafat klasik. Titik tekan dari pemikiran sofisme adalah bahwa persoalan filsafat bukan lagi terlertak pada kosmos/alam besar namun terletak pada manusia. Filsafat harus membahas manusia sebagai makhluk hidup yang berpengetahuan dan berkemauan. Pengetahuan dan kemauan manusia harus dijadikan topik utama dalam pembahasan filsafat. Selain itu, pemikiran filsafat sofisme juga berpandangan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, semua hal di dunia ini bersifat relatif. Pendekatan yang dilakukan pun adalah skeptisme. Pandangan yang seperti ini akhirnya yang membuat peradaban yunani perlahan mulai runtuh. Di zaman kaum sofis ini seni berpidato atau yang kita kenal dengan istilah retorika mulai berkembang. Filsuf dalam pemikiran ini antara lain Protagoras, Gorgias, Hippias, Prodikos.

  • Filsafat Klasik

Pemikiran filsafat klasik bisa dikatakan merupakan pemikiran filsafat yang paling populer dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran yang lain. Pemikiran ini diawali dengan Socrates lalu dibangun secara sophisticated oleh Plato dan Aristoteles. Pemikiran filsafat klasik memberikan sumbangsih yang besar dalam teori-teori ilmu politik, hukum, sosial, dan ekonomi. Socrates memberikan pengaruh yang besar dalam metode bagaimana mencari kebenaran. Menurut Socrates untuk mencari kebenaran kita harus melakukan perbandingan secara kritis. Sesuatu hal apabila mau dianggap valid harus selalu diuji dengan beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Metode pengujian kebenaran yang seperti ini dinamakan sebagai Metode Socrates. Socrates juga meninggalkan nilai etik yang terkenal yaitu budi ialah tahu yang artinya budi baik manusia timbul dengan pengetahuan. Setelah Socrates, pemikiran filsafat klasik dikembangkan lagi oleh Plato. Plato membuat konsep mengenai idea. Secara sederhana yang dimaksud dengan idea adalah pengetahuan, dalam hal ini menurut Plato idea dapat diperoleh dengan pikiran yang mendalam. Gagasan idea ini awalnya hanya berkaitan dengan permasalahan logika namun berkembang terus menerus meliputi pandangan politik, sosial, bahkan agama. Gagasan idea pun tidak bisa dilepaskan dari peran guru Plato yaitu Socrates yang mempunyai adagium budi ialah tahu. Selain berbicara mengenai filsafat secara umum, Plato juga berbicara tentang suatu negara ideal. Menurut Plato, suatu negara akan berjalan dengan baik apabila dipimpin oleh seorang yang mencintai kebijaksanaan atau yang dikenal dengan istilah philosopher king.  Setelah Plato, pemikiran filsafat klasik yunani dikembangkan oleh Aristoteles. Secara umum, Aristoteles memiliki pandangan yang sama dengan Plato namun ada beberapa hal yang berbeda salah satunya mengenai bagaimana cara memperoleh pengertian. Menurut Aristoteles pengertian tidak diperoleh dari suatu hal yang umum namun dari suatu hal yang spesifik yang kita kenal dengan metode induktif. Sederhananya Plato seorang yang rasionalis sedangkan Aristoteles seorang yang empiris. Selain itu, Aristoteles juga dikenal sebagai bapak “Logika” . Dia yang memperkenalkan metode silogisme dalam menarik kesimpulan. Aristoteles juga membangun ajaran mengenai tujuan atau yang dikenal dengan teleologis. Dalam pandangan politiknya, Aristoteles menjelaskan bahwa setiap negara mengalami siklus naik turun dalam perjalanannya. Menurut Aristoteles sistem pemerintahan yang baik itu monarki, aristokrasi, dan politea/timokrasi. Sedangkan sistem pemerintahan yang buruk yaitu tirani, oligarki, dan oklokrasi.           

  • Filsafat Helen-Romana (Hellenistik)

Peralihan pemikiran filsafat klasik menjadi filsafat Hellenistik disebabkan oleh ekspansi yang dilakukan oleh Alexander the Great. Pemikiran filsafat Hellenistik ini menggabungkan antara pemikiran filsafat yunani dengan romawi. Selain itu, filsafat Hellenistik lebih memberikan perhatian pada ilmu-ilmu yang lebih spesifik dibandingkan teori yang umum. Pemahaman tentang filsafat diarahkan kepada hal yang lebih praktis ketimbang teoritis. Secara garis besar, filsafat Hellenistik dibagi menjadi dua yaitu masa etik dan masa religi. Masa etik terdiri dari 3 mazhab (school) yaitu Epikuros, Stoa, dan Skeptis. Pada masa ini inti dari suatu filsafat yaitu kesenangan hidup sehingga filsafat dianggap berguna apabila memberikan kesenangan hidup. Sementara itu, masa religi terdiri dari 3 mazhab (school) yaitu Neo-Pythagoras, Philon yang terdapat di Alexandria, dan Neo-Platonisme. Pada masa religi filsafat dibelokan ke arah yang lebih mistis, rasionalisme tidak lagi dianggap penting. Irasionalisme kembali berkembang sehingga keinginan untuk berpikir secara merdeka dan bermartabat menjadi hilang digantikan dengan perasaan mistis yang tidak berdasar.

Kesimpulan:

Pemikiran filsafat yunani bisa dikatakan sebagai salah satu kerajaan pemikiran yang besar. Pemikiran ini “menguasai” eropa kurang lebih seribu tahun lamanya. Sampai saat ini banyak pemikiran-pemikiran terutama dalam ranah sosial, politik, dan hukum yang masih menjadikan pemikiran ini sebagai benchmark gagasan-gagasan mengenai kenegaraan. Selain itu, secara praktis dengan mempelajari filsafat kita diharapkan dapat melihat suatu hal atau fenomena menjadi lebih kritis, tajam, dan mengedepankan rasionalitas.







diyarbakır escort